Ken & Sean
“I found you.” Ken menoleh,
“Oh?” Pria itu tidak terkejut dengan kehadiran Sean disana.
Ia tahu Sean akan serius mencarinya walau sampai ke ujung dunia sekalipun.
“So, you came this far just for these trash.” Tunjuk Sean ke arah dua perempuan dengan pakaian minim di atas pangkuan Ken.
Ken meneguk alkoholnya dengan tenang, sedangkan salah satu perempuan di pangkuannya berdiri dengan kesal.
“Who are you?!” Perempuan itu mendorong bahu Sean, tidak terima diganggu pria yang tiba-tiba datang merusak momennya.
“Me?” Sean memandang remeh perempuan di hadapannya lalu mengangkat tangan kanannya, menunjukkan cincin perak yang melingkar di jari manisnya.
“I’m his husband, didn’t you see that ring, bitch?” Ucap Sean lalu menunjuk Ken dengan dagunya yang membuat kedua perempuan itu menoleh ke arah Ken.
Mereka bisa melihat dengan jelas cincin perak yang melingkar di jari manis Ken ketika pria itu kembali mengangkat gelas untuk meneguk whiskey, cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Sean.
Perempuan yang masih duduk di pangkuan Ken reflek berdiri,
“Get loss now!” Tanpa diminta dua kali, kedua perempuan itu segera menjauh dari Ken dan Sean.
“Not funny, saya datang kesini untuk mencari kesenangan.” Ken meletakkan gelasnya, dan dengan cepat Sean mendudukan dirinya di pangkuan Ken sebelum pria itu berdiri.
“Sama gue! I’ll give you that.”
Keduanya saling menatap, sebelum Ken membuang wajahnya,
“It’s over now.”
“KEN!” Sean menahan bahu Ken yang nyaris mendorongnya.
“Biarin gue jelasin dulu, okay? Please gue mau jelasin ke lo.”
Ken menghela nafas, yang diartikan Sean jika prianya itu akan mendengarkan.
“Yang semalam itu emang gue, tapi, itu semua salah paham Ken, lo salah paham.”
“That’s photo explain everything already, dimana letak salah pahamnya?” Tanya Ken dingin.
“Lo salah paham, gue gak pernah cium perempuan itu Ken, gue akui semalam gue mabok dan seingat gue Jacob bawa gue keluar buat pulang tapi entah kenapa tiba-tiba ada perempuan yang mendekat ke arah gue waktu Jacob balik ke dalam buat ambil kunci motor gue.”
“Setelah itu gue gak ingat apapun, yang gue tau paginya gue udah ada di tempat Jacob.”
“Ken gue gak bohong, gue berani sumpah, gue bahkan gak ingat kita ciuman, gue gak ingat apapun, gue udah tanya Jacob dan dia bilang gue cuma sendirian duduk di bawah waktu dia balik lagi.”
Ken menatap Sean yang mulai frustasi di atas pangkuannya, pria itu terlihat panik luar biasa, mencoba menjelaskan apapun.
“Demi Tuhan, gue gak pernah tidur dengan siapapun setelah kita menikah, Ken. Gue udah tinggalin semua kehidupan malam gue selain balapan dan party, gue gak bohong.” Sean meremas bahu Ken, nafasnya mulai memburu terbawa emosi.
“Gue emang pernah menentang pernikahan kita, tapi gue gak pernah melanggar janji gue Ken, gue gak sejahat itu untuk berbuat sejauh ini.” Ken bisa melihat mata Sean yang mulai basah, prianya menangis.
“I am sorry Ken, gue tau kalau gue pernah minta pisah sama lo, tapi kali ini gue gak mau cerai, gue gak mau, tolong jangan lepas gue Ken. Gu-gue.”
Sean terisak, dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Wajahnya sudah basah akan air mata, seluruh kilas balik kehidupannya setelah menikah dengan Ken seperti terputar ulang di dalam kepalanya, hatinya sungguh berat jika ia harus berpisah dengan pria yang sudah mengisi kehidupannya selama tiga tahun belakangan ini.
Menerima Ken dan kehidupan pernikahannya yang serba mendadak memanglah bukan hal yang mudah, Sean sudah berontak berkali-kali di awal pernikahannya, dan Ken mencoba bertahan berkali-kali pula walau pria yang lebih muda itu melempar surat cerai di depan wajahnya.
Keduanya menjalani waktu yang berat satu sama lain, jika bukan karena satu sama lain, hubungan mereka mungkin sudah berakhir di tahun pertama.
“G-gue mint-“ Ken merengkuh tubuh Sean.
Pria itu tidak kuat melihat Sean menangis seperti itu.
“Kenapa nangis? Hm? Where’s my big boy? Kalau kayak gini orang-orang gak ada yang percaya kalau kamu suka balapan.” Sean mencebik, lalu memukul pelan bahu Ken.
“Not funny.” Ken tergelak sambil mengelus puncak kepala Sean.
“Saya minta maaf kalau bikin kamu sedih seperti ini, Sean.” Sean menggeleng, bagaimanapun dirinya lah yang salah disini.
“Gue gak mau pisah Ken.” Ucap Sean pelan, hatinya masih berat.
“Saya juga tidak ada niat untuk pisah sama kamu, Sean. Saya minta maaf sudah mengirim pesan kasar tadi pagi, tentu saya marah setelah melihat foto kamu dengan perempuan itu, tapi setelah menenangkan diri, saya tau saya juga salah.” Ken mengusap wajah Sean, ibu jarinya mencubit pelan pipi gembil suaminya itu.
“Saya sengaja memancing kamu kesini, saya tau kamu akan datang.” Ucap Ken lalu terkekeh, ia memang sengaja memancing kedatangan suaminya itu setelah meninggalkan petunjuk dimana ia berada.
“Tapi saya cukup terkejut setelah kamu menujukkan cincin pernikahan kita.”
Sean menghela nafas, selama ini dirinya sangat jarang mengenakkan cincin pernikahan di jari manisnya karena ia sengaja kalungkan cincin itu dari awal pernikahan, dan sekarang ia merasa bersalah.
“Hei, jangan merasa bersalah, saya sudah sangat senang jika kamu tidak membuang cincin itu, Sean.”
Ken membaca Sean dengan mudah.
“Gue gak sejahat itu, Ken.”
“I know,” Ken kembali mengusap kepala Sean.
Keduanya kembali berpelukan,
“So, how did you find me, baby?”
Ah, senang sekali rasanya kembali mendengar panggilan itu.
“From that damn app, of course.” Ken tergelak,
“I thought you hate that app so much.”
“I hate that app, tapi karena tracker itu gue jadi bisa nemuin lo disini.”
Di awal pernikahan, Ken memasang tracker di handphone Sean yang memudahkan Ken untuk menemukan suaminya, tentu awalnya Sean menolak keras, ia tidak suka privasinya diganggu.
Siapa sangka kali ini ia sangat berterima kasih dengan aplikasi sialan itu.
“Now, hand me your phone, sir.” Ucap Sean yang dibalas ekspresi bingung Ken.
“My phone? For what?” Tanya Ken bingung sambil menyerahkan handphone-nya.
“For this.” Obsidian Ken memperhatikan jemari Sean yang bergerak di layar handphone-nya, lalu terkekeh gemas setelah mengetahui Sean mengubah kembali profile picture miliknya.
“You’re mine, Kennedy Ellison.” Ken mengangguk, sebelum menyatukan kedua dahi mereka lalu mengecup bibir terbuka Sean.
“I’m yours, Sean Oliver.” Balasnya lalu kembali mencumbu sang suami.
©️dearyoutoday