Confession
Suasana di dalam mobil Gio terasa canggung, sampai akhirnya Kale membuka suara.
“Iyo, congrats for today. I heard your thesis defense went really well.” Ucap Kale pelan, lalu menoleh ke arah Gio yang ikut menoleh ke arahnya,
“Thank you Ale, but sejujurnya aku berharap bisa ketemu kamu sebelum mulai sidang tadi.” Jawab Gio jujur, ada sedikit rasa kecewa di hatinya ketika tidak melihat Kale disana.
“Maaf Gio, aku pikir lebih baik ketemu kamu langsung, berdua aja.” Gio menghela nafas,
Ia tau ada yang Kale sembunyikan,
“Are you okay, Ale?” Kale menatap Gio sendu,
“No, I am not.” Balasnya lalu mengalihkan pandang ke arah bouquet bunga yang sejak awal ia pangku.
“Apalagi setelah aku tau kamu bakal ke UK minggu depan.” Ekspresi Gio berubah cepat, detak jantungnya tiba-tiba berpacu lebih kencang.
“W-wait, how did you know?”
Kale bisa menangkap nada terkejut dari Gio.
“From someone else,” Kale menghela nafas,
“I’m not gonna lie, Iyo. I’m a little hurt, I thought, we were close enough that I’d hear it from you. But instead, I find out about your move and the arranged marriage from someone else.” Lanjut Kale dengan nada getir.
Gio terdiam, mencoba mencerna perkataan Kale.
“It was just supposed to be a small congratulations for you. But now, I guess it means more than that. Even if I'm hurt, I still wanted to be here for you, Iyo.” Kale menyodorkan bouquet bunga yang sudah ia pilih dengan hati-hati dan penuh perasaan.
Gio menerima dengan ekspresi tidak terbaca,
“And maybe, I should stop holding this in.”
Kale menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan.
“I’ve liked you for a long time, Aku suka sama kamu, Iyo. I kept it to myself because I was scared—scared that if I told you, you’d pull away, and I’d lose you completely.”
Pecah sudah rahasia yang ia coba jaga sejauh ini, Kale tidak bisa menahannya lebih lama.
Kale mencoba mengatur suaranya agak tidak bergetar, mencoba menahan air mata yang nyaris keluar lagi.
“But now, knowing you’re leaving, knowing someone else might stand beside you, I couldn’t keep it inside anymore.” Kale memberanikan dirinya untuk menoleh ke arah Gio,
“I know this probably won’t change anything. I know I might be too late. But, I just needed you to know, at least before you go.”
Gio bersumpah, ia bisa melihat kedua manik Kale yang berkaca-kaca menatap ke arahnya. Tapi entah mengapa ia tidak mengucapkan apapun, seolah lidahnya kelu, tercekat.
“Al—” Hampir saja ia membuka mulut, keduanya dikagetkan dengan suara dering dari handphone Gio yang tersambung langsung ke head unit di mobil Gio.
Dan nama itu disana, nama yang membuat hati Kale semakin sakit.
Clara menghubungi Gio, mungkin karena Gio terlalu lama meninggalkan teman-temannya.
“Anyway, I’m done talking. You can get back to your friends, I think Clara’s been looking for you.” Kale tersenyum kecil,
“Once again, congrats on your defense, on the engagement, and good luck with your studies in the UK, Gio.”
It's Gio and not Iyo anymore,
Kale memutuskan untuk melepas Iyo-nya untuk orang lain.
Pria itu tersenyum sekali lagi sebelum keluar dari Mobil Gio dan meninggalkan pria itu disana tanpa berniat menoleh kembali.
@dearyoutoday