The Day
Setelah mengirim pesan ke Jayden, sepupunya Raya, Rama hanya bisa berdiri di samping mobilnya, menunggu kedatangan Raya dengan gugup.
Obsidiannya menangkap siluet pria yang berlari kecil menuju ke arahnya.
Semakin dekat siluet itu, semakin jelas pula jika itu Raya, sosok yang ia tunggu berlari kecil diikuti rambut yang memantul lucu.
“Kak Rama?” Rama yang bersandar di mobil langsung menegakkan tubuhnya.
“Hai Raya.” Ia berusaha sesantai mungkin menyapa Raya walau jantungnya berdebar cepat.
“Hai kak, ada apa kesini? Gue kaget banget waktu bang Jay bilang ada tamu buat gue dan itu kak Rama.”
Rama mengangguk sambil mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan telunjuk
“Gue mau klarifikasi.” Raya mengernyit bingung,
“Tentang?”
“Pertunangan gue.” Ekspresi Raya berubah sedikit.
Jadi Rama datang menyusulnya hanya untuk membahas hal yang membuatnya sedih hari ini?
“Oh iya kak, selamat ya.” Rama menggeleng cepat,
“Gue gak tunangan Raya, bukan gue yang tunangan.” Raya semakin bingung,
“Yang tunangan sepupu gue, kakaknya Danny.” Jelas Rama sedikit frustasi karena ulah usil Danny.
Apa ini? Banyak informasi baru yang membingungkan Raya.
“Sebentar deh kak, jadi yang tunangan sepupu kak Rama?” Rama mengangguk,
“Sepupu kak Rama itu kakaknya kak Danny?” Lagi, Rama mengangguki pertanyaan Raya.
“Berarti kak Rama sekeluarga sama kak Danny?” Kali ini Rama ikut mengernyit,
“Raya, jadi lo gak tau kalo gue sama Danny sepupuan?” Raya menggeleng polos, ia bahkan baru tau informasi itu sekarang.
Hal ini juga menjadi informasi baru bagi Rama, pria itu kira Raya tau hubungan antara dirinya dan Danny.
“Gue sama Danny sepupuan, sebenarnya Danny itu kakak sepupu gue walaupun seumuran.” Raya mengangguk paham.
“Jadi kak Rama gak tunangan?”
“Nggak, gue gak tunangan, gue bahkan gak tau mau tunangan sama siapa.” Raya mengerjap,
“Emang pacarnya kak Rama gak mau diajak tunangan?”
Rama menghela nafas,
“Gue gak punya pacar, Raya.” Balas Rama dengan suara pelan.
“Oh?”
Haruskah Raya senang sekarang?
“Gue kira kak Rama punya gebetan, makanya menjauh dari gue.”
Rama menatap Raya,
“Hm, Gue punya.”
Baru saja Raya merasa senang, sekarang perasannya kembali sedih.
“Semoga sukses sama gebetannya kak.” Suaranya berubah sedikit sendu.
Rama mengulum senyumnya.
“Raya.”
“Ya?”
Rama maju satu langkah, mendekat ke arah Raya yang bergeming di tempatnya.
“Gue emang punya gebetan, tapi waktu itu gebetan gue update foto cowok lain. Karena kejadian itu, gue kira gebetan gue ini punya pacar. Makanya gue menjauh dari lo, Raya.”
“Hng?” Raya benar-benar tidak paham.
“Gue kurang jelas ya nunjukin perasaan gue ke lo?” Tanya Rama lalu tersenyum lembut.
“Hah?” Obsidiannya melebar diikuti jantungnya yang berdetak lebih cepat karena melihat wajah Rama sedekat itu.
“Gue udah lama suka sama lo, Raya. Maaf kalau gue baru berani bilang sekarang karena gue udah gak bisa simpan perasaan ini lebih lama lagi.” Ucap Rama lalu menatap Raya yang masih bergeming di posisinya.
Pria itu hanya mengerjap cepat tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Rama yang menangkap reaksi Raya pun segera melangkah mundur,
“Sorry, gue gak maksud bikin lo kaget kayak gini.”
“Jangan terbebani sama perasaan gue ya, lo gak harus jawab apapun, gue cu-” Ucapan Rama terhenti setelah Raya maju mendekat ke arahnya dengan tiba-tiba.
“Gue juga suka sama lo kak!” Ucap pria itu cepat, rasa malu menyerangnya, tapi kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
“Gue juga suka sama lo kak. Awalnya emang perasaan gue itu cuma rasa kagum waktu gue liat lo pas ospek, tapi lama-lama rasa kagum gue berubah jadi rasa suka waktu kita udah kenal as senior-junior.” Raya menarik nafas,
“Gu-gue gak berani ngomong tiap ada lo karena gue selalu degdeg-an kak, tapi akhir-akhir ini gue lebih berani setelah kita pergi berdua. Cuma mungkin gue gak seaktif itu karena gue takut lo risih. Terus tiba-tiba lo menjauh dari gue, makanya gue pikir lo punya gebetan.” Raya meremat kaosnya gugup, sejak awal ia hanya bisa menatap sandalnya saja.
“Terus tadi waktu gue tau lo tunangan, gue sedih banget, tapi gue juga gak bisa apa-apa, karena once again, gue cuma junior lo kak.”
Akhirnya semua yang Raya simpan selama ini tumpah juga, perasaan lega luar biasa menghampirinya saat ini.
“Raya.” Yang dipanggil mengangkat wajahnya ragu-ragu.
“Gue lebih senang lihat wajah lo kalau lagi ngobrol.” Ucap Rama lalu tersenyum, ia tak menyangka jika Raya ikut menumpahkan perasaannya.
Perasaan mereka bukanlah rasa suka sepihak.
“Gue juga suka lo dari ospek, waktu lo dihukum joget di atas panggung.” Aku Rama lalu terbahak mengingat kejadian lucu yang menimpa Raya saat ospek karena pria itu lupa membawa tugasnya
“Kak Rama!” Raya malu luar biasa, dari sekian banyak kejadian kenapa harus kejadian memalukan.
Bahu Rama masih bergetar kecil menahan tawa.
“Sorry, sorry, tapi serius, gue suka sama lo saat itu. Gue lihat lo lucu banget, tapi setiap gue mendekat, lo selalu menghindar, jadi gue pikir lo gak suka sama gue.” Raya menggeleng cepat.
“Bukan gak suka kak, gue cuma takut aja, sama malu.”
“Kenapa malu? Padahal lo lucu banget.”
Untung saja sekarang malam hari, wajahnya yang panas tidak terlalu terlihat.
“Setelah kejadian ojol waktu itu, gue berniat mau lebih serius dekat sama lo, Raya. Tapi tiba-tiba gue lihat lo update foto cowok.”
Foto cowok? Siapa?
“Maksud kak Rama tuh foto bang Jay?” Rama mengangguk,
“Kak! Astaga! Bang Jay itu sepupu gue, dia udah tunangan juga,” balas Raya kaget, tak pernah terbayangkan jika dia berpacaran dengan sepupu bawelnya itu.
“Iya, gue salah kerena gak nanya ke lo dulu saat itu, jadi gue milih buat menjauh, maaf.” Raya menggeleng, ia paham dengan posisi Rama, toh, dirinya juga mengalami hal serupa.
“Gue juga salah karena langsung percaya gitu aja sama pertunangan kak Rama.” Rama berdecak, masih kesal dengan ulah Danny
“Tapi karena permasalahan ini, gue jadi tau kalau ternyata perasaan kita sama,” Rama membuka pintu mobilnya, mengambil sesuatu yang sudah ia bawa sejak awal.
Rasa penasaran Raya berubah menjadi rasa terkejut setelah Rama membalik tubuhnya,
“So, Raya, will you please be my boyfriend?” Tanya yang lebih tua sambil menyodorkan bouquet bunga di hadapannya.
Raya reflek menutup mulutnya, tidak menyangka kisah cintanya menjadi nyata.
Dengan mata yang mulai berair ia mengangguk yakin,
“I will.” Balasnya lalu menghambur ke pelukan Rama.
“My heart is all yours, kak.” Bisik Raya lalu memeluk tubuh Rama semakin erat.
“And I love being yours, sayang.” Balas Rama lalu mengusap lembut kepala Raya.
You’ve never left my mind since that day.
©dearyoutoday